PASANG IKLAN
600x90
Hub. 0853-3873-1387

Slider[Style1]

advertisement

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5



PASANG IKLAN
600x90
Hub. 0853-3873-1387
advertisement

BAGIKAN:

Pekan lalu tepat di hari Senin (27/9) dan Kamis (3/10), dua kejadian menghebohkan di Kota Bima. Motif kedua pembantaian secara sadis yang langsung menebaskan nyawa korban di lokasi kejadian, setelah ditelusuri dan menurut pengakuan pihak yang kompeten, masih sekitar soal asmara yang ‘terlarang’. Korban Husen Landa diduga dibantai oleh kekasih sesama jenisnya, Munawar. Sedangkan Sarbini, diduga dibunuh oleh pacar wanita yang ingin ditemui korban di Jembatan Sarata Kelurahan Tanjung, Kota Bima. Bagaimana kisah kedua berita pembunuhan yang menghebohkan warga Kota Bima itu?

Ilustrasi
Ilustrasi
Kota Bima, KS.- Konon, Husen dan Munawar adalah pasangan kekasih sesama jenis atau yang akrab dikenal dengan pasangan homo. Keadaan keduanya sudah menikah. Husen ditinggal istrinya, sekitar belasan tahun yang lalu. Dikediamannya di bilangan Kelurahan Nae, Husen menjadi single parent bagi anak lelaki semata wayangnya yang kini tengah duduk di bangku SMA. Sedangkan, Munawar, lelaki berbadan kekar yang merupakan pasangan gelap Husen Landa. Di tengah perjalanan hubungan yang dilarang oleh Agama dan Budaya masyarakat ketimuran seperti di Bima, hubungan mereka tentu terjaga. Ditambah jarak diantara keduanya, yang diketahui bahwa selama ini Munawar sedang mengais rezeki di kepulauan Batam, di Pulau Sumatra.

Kisah sadis ini, terjadi saat Munawar kembali ke Bima, Senin (27/9) pekan lalu via bandara Sultan Salahudin Bima. Senin sore itu, kata tetangganya, Husen terlihat cerah dan hendak keluar rumah. Ternyata, Husen menjemput Munawar di Bandara, Keduanya pun melepas kerinduan mereka. Dan tak langsung pulang ke rumah.

“Mereka jalan-jalan dulu. Dan seperti layaknya pasangan kekasih yang ingin melepas rindu. Mereka pun melampiaskan rasa itu, di salah satu rumah kosng pinggi jalan lintas karanttina hewan di Kelurahan Jatiwangi, sekitar 500 meter dari mengarah ke timur dari tanjakan pertama menuju pantai ule,” cerita Casman Ilmanegaram SH yang dikonfirmasi Wartawan Koran Stabilitas, Rabu (5/10) kemarin.

Dari keterangan yang di dengar langsung dari Munawar. Menurutnya, kejadian ini diluar dari dugaan dan tak terlintas dari pikiran Munawar. Menang, sebut Casman, sepulang ke Bima, dirinya membawa senjata tajam khas pulau Batam sebagai cindera mata. Diakuinya, cerita ini mungkin sedikit tabu. Saat keduanya mmemadu kasih, Munawar yang menaruh curiga pada Husen yang memiliki kekasih yang lain, merasa cara ‘bermain’ Husen kasar dan sangat bernafsu.

“Kok kasar gitu, ama pacar kamu yang lain kamu itu begitu halus. Kalau ama aku kok kasar sekali,” gumam Casman yang meniru pernyataan kliennya sebelum membunuh Husen di Senin malam itu.

Digambarkannya, hubungan ‘intim’ yang terjadi saat itu, menurut Casman, kliennya ada yang aneh dan merasa bahwa ‘anunya’ akan dilukai oleh Husen.
“Respon Munawar yanbg terpicu cemburu dan merasa ada perlakuan Husen yang menurut Munawar ingin melukai bagian tubuhnya, respon Munawar langsung mengambil parang yang dibawanya dari Batam.

“Klien kami kalap, dan berpikir kalau korban akan melukai pelaku, saat itu pula, leher korban ditebas oleh pelaku,” papar dia serius.

Casman, tak bercerita detail lagi kejadian mutilasi yang dilakukan pelaku. “Maksud pelaku ingin menghilangkan jejak dengan memutilasi kekasihnya itu. Jasad Husen pun dimutilasi dan dibuang di tempat pembuangan sampah di pinggir jalan pantai ule,” ujar Casman.

Setelah mengeksekusi kekasih homo yang menjadi pelampiasan hasrat dan nafsu sesama jenisnya itu, Munawar sebenarnya ingin kembali ke Batam.

“Namun, saat check in tiket di maskapai Garuda, nomor booking Munawar tidak sesuai dengan KTPnya. Dia pun harus menunda keberangkatannya, dan menginap di rumah salah satu keluarganya di Desa Teke. Disanalah, klien saya diringkus oleh petugas,” ungkap Casman yang mengaku semua pernyataannya sesuai dengan keterangan kliennya saat pemeriksaan di kantor Satreskrim Polres Bima Kota di Gunung Dua.

Cerita Casman, menurut versi yang disampaikan Munawar pada kuasa hukumnya.Lalu, bagaimana hasil dari pemeriksaan Pihak Kepolisian Polres Bima Kota dalam kasus asmara terlarang yang menewaskan Sarbini, warga Desa Kala, Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, Jum’at (4/10) tengah malam lalu?

Di hari Kamis pagi, Sarbini dengan dua orang kerabatnya datang ke Kota Bima untuk menemui salah seorang tokoh desa mereka yang telah menetap di Kota Bima. Silaturahmi ini sudah biasa dilakukannya. Sarbini, selain menengok anaknya yang belajar di bangku menengah dan tinggal bersama keluarganya di Kota Bima. Ia bersama dua kerabatnya, Guru Jufu dan Guru Juan singgah di rumah H. Mustahid, anggota DPRD Kabupaten Bima, pria kelahiran asli dari Kecamatan Donggo.

Informasi yang dihimpun, di rumah Ketua PKB Kabupaten Bima itu, Sarbini berkelakar dengan kerabatnya. Malam itu, ia pun sempat membahas tentang seorang gadis yang diketahui dekat dengan salah satu kerabat yang datang bersamanya dari Kecamatan Donggo. Sarbini seolah tertarik, saat makan bersama, Sarbini mengambil HP kerabatnya itu. Dengan kelakar dan senda gurau diantara mereka, ternyata Sarbini menghubungi nomor gadis yang ingin bertemu dengan salah satu kerabatnya itu.

Sarbini pun kian terpancing dengan 'rayuan' pemilik nomor yang diambil dari HP kerabatnya itu. Menurut keterangan Plt. Kasubag Humas Polres Bima Kota, IPDA Suratno mengatakan, setelah dilihat dari HP milik Sarbini. Antara Sarbini dan salah satu nomor kontak di Hpnya itu, mereka ingin bertemu.
“Ada semacam kesepakatan pertemuan antara Sarbini dengan pemilik salah satu nomor di HPnya, yang mungkin dianggap oleh Sarbini adalah seorang gadis muda yang mau diajak oleh Sarbini untuk bertemu,” tutur Suratno, Jum’at (4/10) pagi lalu.

Diterangkan Suratno, dari hasil pemeriksaan sementara. Pemilik nomor kontak yang mengajaknya bertemu di Jemabatan Sarata adalah pacar dari seorang gadis asal Kelurahan Tanjung. Sekitar pukul 00.50 Wita, sambungnya, setelah ada laporan warga adanya korban pembacokan di Jembatan Sarata, ditemukan seorang pria dalam kondisi kritis dan terparkir motor jenis CBR yang diketahui adalah milik korban.

“Pelaku mungkin cemburu, dan memancing keluar lelaki yang dicurigainya selingkuhan pacarnya itu. Menurut kabarnya juga, wanita itu tengah hamil muda dan akan menikah dengan pacarnya itu. Saat bertemu pelaku langsung membacok korban dengan menggunakan sebilah parang. Untuk sementara dugaannya motifnya karena cemburu,” ujar Suratno (Ag-04)

advertisement


BAGIKAN:
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Komentar Facebook

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *