PASANG IKLAN
600x90
Hub. 0853-3873-1387

Slider[Style1]

advertisement

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5



PASANG IKLAN
600x90
Hub. 0853-3873-1387
advertisement

BAGIKAN:

Oleh
Muhammad Ayyubi ( Ketua Hizbut Tahrir Indonesia- Bima )

Narkoba seolah menjadi monster bagi bangsa ini, termasuk bagi dana Mbojo tercinta. Bagaimana tidak, ancaman narkoba akan menyebabkan lost generation, atau hilangnya generasi yangproduktif. Karena efek narkoba akan berlangsung antar generasi.

Jika remaja hari ini terpapar narkoba, maka kemungkinan besar keturunan mereka akan terpapar narkoba. karena darah mereka telah terkontaminasi narkoba, lingkungan keluarga mereka adalah pemakai narkoba, anak anak tersebuat akan kerap berhubungan dengan seputar narkoba. Maka ancaman narkoba seolah tak terputus bagai lingkaran setan.

Hari ini saja sebagaimana rilis yang disampaikan BNN bahwa 50 orang mati setiap harinya karena narkoba. Itu artinya ada 18.250 orang yang tewas setiap tahunnya. Tentu itu bukan angka yang sedikit. Maka pantaslah jika beberapa pihak semisal Panglima TNI mengungkapkan bahwa narkoba ini merupakan bentuk proxy war untuk menguasai negeri ini tanpa peperangan militer.

Bahkan Lemhanas meneyebutkan bahwa Indonesia telah mengalami serangan perang Asimetris salah satunya melalui narkoba. Sebuah perang yang tidak disadari, tetapi akibatnya lebih besar melebihi perang konvensional secara militer.

Maka hal ini harus disadari oleh semua pihak, bahwa kita sedang mengalami serangan yang tidak ringan. Dan harus ada perlawanan atas semua ini. Jika tidak, bukan tidak mingkin tidak ada lagi Indonesia di masa yang akan datang. Kita berharap itu tidak terjadi. Oleh karena serangan itu adalah serangan sebuah negara atas negara yang lain, maka perlawanan juga harus dilakukan oleh lawan yang seimbang yakni sebuah negara. Kepala negara harus lah menganggap ini sebuah darurat yang harus ditangani.

Tulisan ini mencoba memberikan solusi atas masalah narkoba di negeri ini dan di Dana Mbojo tercinta. Pertama, diperlukan ketakwaan individi untuk menangkap serangan ini. Individu yang bertaqwa kepada Allah SWT akan menghindari konsumsi narkoba, karena dirinya merasa bahwa perbuatan itu adalah perbuatan yang bertentangan dengan perintah Allah SWT. Maka menciptakan lingkungan yang mendorong seseorang untuk bertaqwa menjadi sangat urgen dan mendesak. Jika di Bima ini ada program magrib mengaji seharusnya itu bukan hanya slogan yang tak bernyawa.

Hakikatnya bisa dikondisikan setiap orang untuk bertaqwa. Sebagai contoh, Pemerintah pusat dan pemerintah daerah bisa merancang acaraTV yang akan mendorong semangan keimanan warganya, bukan semakin medorong rakyat dan warga untuk berbuat maksiat dengan acara acara TV yang hedonis, penuh kebebasan dan mengumbar aurat. Termasuk pula malarang semua bentuk pornografi dan pornoaksi baik di dunia media elektronik seperti TV, Internet atau media sosial.

Maupun di dunia nyata, seperti panggung hiburan, orgen, acara live musik dan sejenisnya.

Sejalan dengan program magrib mengaji itu seharusnya tidak ada siaran TV pada saat magrib. Dan semua warga diarahkan untuk mengaji baik di masjid atau di rumah. Dan bukan hanya membaca Al Quran saja, tetapi juga dikaji isi dan kandungan Al Quran sehingga setiap orang akan memahaminya.

Dan itu akan menjadi pemahaman masyarakat, dan pemahaman itu akan medorong setiap orang untuk berbuat sebagaimana apa yang dipahami dalam Al Quran, mana yang halal dan mana yang haram. Dan penting juga dilakukan adalah sanksi bagi yang melanggar agar tidak menjadi slogan yang ompong dan tidak bisa menggigit. Jika hal ini dilakukan secara simultan dan sustainable ( berkelanjutan terus menerus ) maka akan terciptalah masyarakat dan individu yang bertaqwa.

Kedua, perlu kontrol masyarakat untuk menjaga kemaslahatan di dalamnya. Masyarakat haruslah menunjukkan sikap, tidak suka dan menghalangi segala bentuk kemaksiatan dan kriminal termasuk narkoba.

Melakukan kerjasama dengan pihak keamanan jika menghadapi, dan melihat kemaksiatan dan kriminal. Walhasil, setiap kejahatan akan bisa ditepis jika masyarakat peduli, tetapi jika tidak bahkan acuh, maka kejahatan narkoba akan merajalela karena pelaku kejahatan termasuk nakoba merasa bahwa aktivitas kemaksiatan dan kejahatanya tidak ada masalah. Ketiga adalah penerapan hukum yang akan memberikan efek jera kepada pelaku narkoba.

Bahkan sampai kepada hukuman mati. Dan tak kalah pentingya adalah negara harus menutupsemua pintu masuknya narkoba di negeri ini. Baik itu melalui jaringan mafia atau pun melalui jalur negara. Bahkan negara harus tegas jika ada negara lain yang dengan sengaja melakukan impor nakoba ke negara ini.

Jika perlu melakukan pemutusan hubungan diplomatis. Tentu hal ini perlu kejelian dan analisa untuk mengambil keputusan. Hukum juga tidak boleh tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Karena hal itu akan menyebabkan ketidakadilan dan dendam bagi sebagian pihak.

Jika demikian adanya, agaknya sulit jika mengharapkan hal semua di atas pada sistem Kapitalisme yang melandaskan kepada pemisahan agama dari negara alias sekuler. Karena sekulerisme itu sejalan dengan kebebasan apa pun bentuknya, diskriminasi dan ketidakadilan. Maka harapan satu satunya kepada sistem Islam dengan Syariat Islam yang diterapkan oleh Negara. Dan negara yang menerepkan Syariat Islam secara sempurna di sebut dengan Khilafah Islamiyyah oleh para ulama ulama Fiqh Ahlus Sunnah wal Jamaah. (*)

advertisement


BAGIKAN:
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Komentar Facebook

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *