PASANG IKLAN
600x90
Hub. 0853-3873-1387

Slider[Style1]

advertisement

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5



PASANG IKLAN
600x90
Hub. 0853-3873-1387
advertisement

BAGIKAN:

Tepat tanggal 21 Oktober 2016 lalu, salah seorang Anggota DPRD Kabupaten Bima, Sulaiman MT,SH membeli tiket pesawat Garuda Indonesia dari Bima NTB menuju Jakarta, namun transit di Bandara Internasional Lombok (BIL). Lebih kurang 1 Jam berada di BIL, Sulaiman bersama dua rekannya Ruslan dan Yasin, S.Pd hendak melanjutkan perjalanannya ke Jakarta. Namun sayangnya, Sulaiman bukannya harus menggunakan pesawat Garuda melainkan pesawat Lion Air, setelah “diusir” keluar oleh security Garuda dengan alasan tidak jelas. Bagaimana kisah sebenarnya, berikut pengakuan Sulaiman MT kepada Wartawan Koran Stabilitas, Selasa (4/7) sore.

Sulaiman MT,SH

BIMA, KS.- Sulaiman mengaku tidak menyangka bisa memenangkan gugatan perdata nomor 78/Pdt G/PN.RBI 2016 dengan tergugat PT.Garuda Indonesia. Pasalnya, keinginan untuk menggugat maskapai Garuda akibat ulah management PT.Garuda yang mengusir keluar dirinya dari dalam pesawat, lantaran masalah tas yang dibawanya disimpan di lorong jalan pesawat bukan pada bagasi atas pesawat.

“Saat itu saya membawa tas. Awalnya saya hendak menyimpan tas itu diatas bagasi, tapi bagasinya full dengan tas penumpang lain, sehingga oleh saya simpa dilorong jalan pesawat. Nah, datanglah seorang pramugari yang meminta agar saya memindahkan tas saya, tapi tidak saya indahkan,” ceritanya.

Lantaran tidak di indahkan olehnya, pramugari tersebut melaporkan kejadian itu ke atasannya, sehingga datanglah atasannya menemui dirinya, dan meminta ia untuk meminta maaf kepada pramugari tersebut. Permintaan mereka pun tidak diindahkan olehnya, karena merasa tidak bersalah. Namun parahnya lagi, sikap penolakan dirinya membuat dirinya diusir keluar dari dalam pesawat oleh dua orang security.

“Saya disuruh naik pesawat lain oleh management Garuda, sementara barang-barang saya yang lain ada dalam bagasi garuda,” urainya.

Selain diusir, management Garuda juga mempersilahkan dirinya untuk menggugat secara hukum atau perdata, bila tidak puas dengan pelayanan Garuda. Alhasil, atas kebenaran yang dimilikinya itu, akhirnya Garuda kalah dalam gugatan perdata yang diajukan olehnya di PN Raba Bima.

“Minggu kemarin sidang putusan di PN Raba Bima, dan saya berhasil memenangkan gugatan tersebut, dengan denda Rp.1,027.570.000 (Satu Milyar Dua Puluh Tujuh Juta Lima Ratus Tujuh Puluh Ribu Rupiah) yang harus dibayar oleh PT.Garuda kepada dirinya sebagai biaya ganti rugi,” pungkasnya.

Dengan kemenangannya itu, membuktikan bahwa hakim PN Raba Bima telah melaksanakan keadilan dalam menegakan hukum di Negeri ini, khususnya di wilayah hukum Nusa Tenggara Barat (NTB).”Saya atas nama penggugat mengucapkan terimakasih kepada majelis hakim yang telah memenangkan saya atas gugatan perdata dengan tergugat Garuda Indonesia,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Sulaiman juga mengaku sempat tawar menawar biaya ganti rugi dengan empat orang pengacara PT.Garuda Indonesia. Dimana, dari angka Rp.1,2Milyar yang digugat pertama, pihak Garuda meminta untuk menurunkan nilai kerugian tersebut, sehingga ditawar dengan angka Rp.500Juta, namun masih dianggap tinggi oleh pihak Garuda.

Setelah ditawar Rp.500Juta, pihak Garuda meminta untuk diturunkan lagi, sehingga ditawar dengan angka Rp.250Juta, namun kembali pihak Garuda meresa tinggi dengan nilai penawaran tersebut. Sehingga olehnya pun berkeputusan untuk melanjutkan perkara dengan angka semula yakni Rp.1,2Milyar lebih.

“Ya, akhirnya oleh hakim memutuskan agar pihak garuda membayar ganti rugi Rp.1,02 Milyar lebih,” tandasnya.(KS-R01)

advertisement


BAGIKAN:
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Komentar Facebook

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *