PASANG IKLAN
600x90
Hub. 0853-3873-1387

Slider[Style1]

advertisement

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5



PASANG IKLAN
600x90
Hub. 0853-3873-1387
advertisement

BAGIKAN:

Biasanya, setiap Bulan Ramandhan, selalu ditandai dengan membanjirnya Gelandang dan Pengemis (Gepeng) dadakan. Tidak hanya anak-anak, berusia paruh baya juga tidak kalah saing. Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Sosial (Disos) Kota Bima, H. Muhidin A S. Dahlan mengingatkan kepala para lurah untuk mengawasi masyarakat masing-masing.

H. Muhidin. Foto: Kahaba.net

KOTA BIMA, KS.- H. Muhidin menilai, pemerintah kelurahan memiliki tanggung jawab dalam mengawasi gerakan masyarakat masing-masing. Sebab, aparatur kelurahan merupakan ujung tombak sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah, karena bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Kami berharap aparat kelurahan tidak tinggal diam. Mereka harus mengawasi dan mencegah jika melihat ada masyarakat yang menjadi Gepeng,” katanya saat ditemui di kantornya.

Pria ramah ini mengaku, secara khusus belum berkomunikasi dengan pihak kelurahan terkait Gepeng ini. Hanya saja tidak jarang dalam beberapa pertemuan, pihaknya menyisihkan sosialisasi masalah Gepeng. “Kalau diadakan pembicaraan khusus memang belum pernah, tapi masalah itu tetap kami himbau di beberapa acara,” tuturnya.

Dia berjanji, ke depan akan berkoordinasi dengan pemerintah kelurahan terkait masalah ini. Hal itu dilakukan sebagai upaya menurangi munculnya Gepeng. “Mungkin kami bisa mengeluarkan semacam surat kepada kelurahan,” jelasnya.

Ketakutan H. Muhidin, jika Gepeng dibiarkan berlarun, akan membentuk mental peminta-minta. Karena keenakan mendapat uang tanpa harus susah bekerja. Pada akhirnya, Gepeng ini akan menjadi profesi. “Ini yang tidak harapkan, jangan sampai terbentuknya mental-mental peminta di masyarakat kita,” imbuhnya.

Secara khusus, H Muhidin melihat kegiatan meminta “Ha Gla” bukan penyakit sosial. Sebab kegiatan ini hanya muncul pada bulan Puasa saja. Bahkan menjadi tradisi bagi anak-anak kepada orang tua. Namun belakangan ini, kebiasaan itu sudah melenceng. Karena dijadikan alasan untuk meminta-minta. “Misalnya kita temui di Raba Dompu, biasa yang meminta-minta ke rumah-rumah warga itu bukan asli Raba Dompu,” bebernya.

Hasil pantauan Wartawan Stabilitas, “Ha Gla” merupakan salah satu momen atau tradisi membahagiakan bagi anak-anak. Biasanya, waktu “Ha Gla” ini beberapa hari jelang Idul Fitri sampai hari sholat Idul Fitri. Namun belakangan ini, sebagian masyarakat mulai salah kaprah. Waktu meminta Ha Gla malah diperpanjang mulai awal-awal puasa hingga hari sholat Idil Fitri.

Tidak hanya itu, sasarannya juga sudah sedikit melenceng. Jika dulu anak-anak hanya menyasar rumah-rumah tertentu saja. Seperti rumah kepala Dinas, Walikota/Bupati, pengusaha dan orang-orang berduit. Namun sekarang tidak dibedakan, hanya bermodalkan Assalamu’alaiku, mereka menyosor rumah-rumah disetiap perkampungan. (KS-M05)

advertisement


BAGIKAN:
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Komentar Facebook

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *