PASANG IKLAN
600x90
Hub. 0853-3873-1387

Slider[Style1]

advertisement

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5



PASANG IKLAN
600x90
Hub. 0853-3873-1387
advertisement

BAGIKAN:

Merajalelanya pil tramadol di sejumlah Desa dan Kelurahan di Kota dan Kabupaten Bima sekarang, diduga sebagai pemicu utama bagi pelaku dalam melakukan pembunuhan. Diharapkan, peran aktif pemerintah Daerah Kabupaten Bima agar melakukan koordinasi dengan pihak aparat, baik Polisi maupun TNI yang bertugas di Desa, agar melakukan razia terhadap oknum warga yang menjual tramadol.

Ilustrasi

BIMA, KS.- Salah satu peristiwa pembunuhan yang terjadi di perbatasan Desa Mpili dan Kamunti terhadap korban Dewa Bhakti Negara (20) Kamis, 29 Juni 2017. Bahwa sebelum melakukan pembunuhan, para pelaku diduga terlebih dahulu menkosumsi pil tramadol, sehingga menimbulkan kemarahan dan keberanian untuk melakukan kejahatan, termasuk siap melakukan pembunuhan.

Salah seorang tokoh Donggo, Akarim atau yang biasa disapa Ayah oleh warga selama ini mengaku resah dengan kondisi kehidupan rakyat sekarang, yang rawan melakukan kejahatan, terutama munculnya konflik horizontal di tengah masyarakat.

“Dulu, anak-anak muda, cukup ditegur atau dipanggil namanya, langsung berhenti berkelahi atau melakukan perang kampong. Sekarang, akibat minum tramadol, orang tuapun akan dibunuh,” tuturnya.

Kondisi ini kata Ayah, membutuhkan peran pemerintah Desa, pemerintah Kecamatan terutama pemerintah Kabupaten Bima agar melakukan kegiatan social masyarakat, atau kegiatan keagamaan di setiap desa sebagai langkah antisipasi terjadi kejahatan, atau paling tidak meminimalisir keadaan desa setempat.

“Jika pemerintah tidak berperan memberantas penjual tramadol sekarang, maka generasi bangsa di seluruh desa akan semakin rusak moral dan akhlaknya,” jelasnya.

Mestinya kata Ayah, sejak dulu pemerintah mengambil langkah konkrit untuk mencegah terjadinya perang kampong atau konflik di tengah masyarakat. Jika, pemerintah memiliki niat baik untuk membangun daerah ini. Namun, sekiranya pemerintah hanya pencitraan diri semata, maka moral dan ahlak warga di seluruh desa di Kabupaten Bima akan semakin rusak bahkan terpuruk.

“Saya hanya menyarankan saja, sebagai langkah awal pemerintah meminimalisir penjualan tramadol, bisa menempatkan anggota Pol-PP minimal dua orang perdesa, yang setiap saat membangun komunikasi dengan bhabinkamtibmas dan babinsa. Insya Allah, sedikit demi sedikit, rakyat bisa terselamatkan dari bahaya tramadol tersebut,” tuturnya.

Senada juga disampaikan Ketua ADAT Donggo, Arifin Jeanat, yang meminta kepada pihak Kepolisian dan TNI agar menangkap semua pelaku penjual tramadol, dan mengamankan warga yang menkosumsi tramadol untuk dilakukan pembinaan. Bila tidak, maka perang kampung yang biasa terjadi selama ini di sejumlah wilayah Kecamatan tidak bisa dihindari.

“Saya berharap kepada Bupati Bima agar selamatkan generasi muda di Kabupaten Bima dari bahaya tramadol, miras dan narkoba, yang saat ini sudah masuk di pelosok desa,” harapnya.(KS-IB02)

advertisement


BAGIKAN:
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Komentar Facebook

Tidak ada komentar:

Post a Comment


Untuk dapat memberikan komentar, Anda harus menggunakan salah satu akun atau profile yang Anda miliki. Bila tidak ada, silahkan pilih sebagai "Anonymous"

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *