BIMA, KS.- Cinta memang sering kali sulit dinalar dengan logika. Banyak orang mengatakan bahwa ketika seseorang telah dimabuk cinta, apa pu...
BIMA, KS.- Cinta memang sering kali sulit dinalar dengan logika. Banyak orang mengatakan bahwa ketika seseorang telah dimabuk cinta, apa pun dapat dilakukan. Dalam kondisi tersebut, seseorang terkadang tidak lagi mampu memilih dan memilah, apakah itu saudara, orang tua, maupun anak kandung.
Hal itulah yang dilakukan oleh seorang ibu berinisial N terhadap tiga anak kandungnya. Hingga saat ini, ketiga anak tersebut tengah menjalani proses hukum di Polres Bima setelah dilaporkan dengan dugaan melakukan penganiayaan dan pengeroyokan terhadap Syahril Hidayat, yang tidak lain merupakan suami baru dari N.
Apa boleh buat dan apa hendak dikata, perspektif masyarakat tentu beragam dalam menyikapi tindakan yang dilakukan oleh Ibu N tersebut. Namun, bagi Ibu N, langkah yang ditempuh merupakan keputusan yang tetap, dengan alasan bahwa Indonesia adalah negara hukum sehingga setiap persoalan harus diselesaikan melalui jalur hukum, meskipun hal itu harus mengorbankan nasib tiga anak yang telah ia lahirkan dengan perjuangan antara hidup dan mati.
Peristiwa ini tentu memunculkan perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Ada pihak yang pro dan membenarkan tindakan Ibu N, namun tidak sedikit pula yang kontra dan mengecam keputusan tersebut.
Dari berbagai pendapat yang berkembang, terdapat dua pandangan yang saling bertentangan. Sebagian orang berpendapat bahwa anak adalah darah daging, terlebih bagi seorang ibu. Selama sembilan bulan sepuluh hari mengandung, kemudian melahirkan dengan taruhan antara hidup dan mati. Oleh karena itu, anak harus dibela dan dijaga karena merupakan buah hati serta wujud cinta kedua orang tua.
Namun, pendapat lain menyatakan bahwa suami adalah surga bagi seorang istri. Rida seorang istri bergantung pada rida suaminya. Bahkan, suami dianggap sebagai pelindung bagi istri di akhirat kelak. Artinya, menjaga harkat dan martabat suami merupakan kewajiban seorang istri dalam kondisi apa pun.
Dengan demikian, tindakan yang dilakukan oleh Ibu N dipandang benar atau salah sangat bergantung pada sudut pandang masing-masing. Perbedaan perspektif tersebut sulit untuk disatukan, meskipun menyangkut hubungan antara ibu dan anak.
(KS TIM)

COMMENTS