$type=carousel$sn=0$cols=4$va=0$count=5$show=home


Sekolah Meluluskan Penjahat

Jangan – jangan sekolah memang mengajarkan anak untuk menjadi penjahat? Jawabanya bisa jadi!

Oleh : A.Latif,S.Kep.,Ns
(Ketua Umum HMI Komisariat STIKPER Gunung Sari Makassar)

SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi itu deretan rangkaian lembaga yang kerap sopan di hadapan masyarakat dan media mungkin belum seru kalau kita belum menonton film alangkah lucunya negeri ini yang mengambarkan sekenario yang amat luar biasa untuk jadi tontonan bagi petinggi negeri ini yang kerap menikmati hasih dari pembelajaran di sekolah-sekolah yang mendidik mereka sehingga menjadi tokoh dan bahkan menjadi rezim di negeri ini hanya bermodalkan senyum, akankah senyum itu terus diluangkan bagi mereka yang meneriakan suara- suara kebenaran itu sudah menjadi profesi mereka bahkan saya masih ingat ketika seorang tokoh masyarakat sekaligus senior menasehati saya dengan sopan lalu berkata “jangan jadikan teriak-teriak di jalan itu sebagai profesi mu karana kelak nanti kamu akan kembali menjadi seperti orang yang kamu pernah teriakan itu” kehidupan di negeri ini tidak ada bedanya dengan nasehat yang pernah dilontarkan oleh seorang tokoh masyarakat sekaligus senior.

Sekolah telah menguraikan sejarah pradaban dinegeri ini sejarah itu pun telah tercatat sejak lahirnya negeri ini. Negeri ini lahir dari belenggu kekuasaan para penjajah yang telah mengajarkan kita kentang kekerasan dan lebih-lebih kecerdasan dalam hal tambah-tambah atau kali-kali dalam sistim matimatika satu tambah dua sama dengan tiga atau tiga kali dua sama dengan enam tapi kebanyakan orang yang telah diajarkan di sekolah-sekolah itu setelah menjadi orang-orang penting malah mereka lupa bahwa pada saat mereka sekolah juga telah di ajarkan tentang bagi-bagi tapi kenyataannya satu aitem itu yang telah lupakan oleh para pemimpin di negeri ini bagi-bagi itu perlu kita tambahkan minimal empat SKS untuk mata pelajaran tersebut agar mereka sadar bahwa banyak warga negara di negeri yang belum menikmati pendidikan yang layak tapi apalah daya karna ulah rezim di negeri ini mereka malah menjadi keluyuran.

Saya memang tak tahu apa penjabat yang korupsi dan kekayaan yang melimpah ruah itu duduk pernah duduk di bangku sekolah ? setahu saya mereka juga punya gelar yang merenteng bahkan beberapa di antaranya pernah lama sekolah di luar negeri. Bahkan ada yang menjadi penjabat sembari menjadi guru besar di perguruan tinggi yang namanya tersorot. Mereka terbukti pernah sekolah, jika dilihat dari gelar yang berjejer di samping namanya, bau sekolah yang pasti pernah mereka cium dan yang jadi pertanyaan, hikmah apa yang mereka peroleh dari masa belajar puluhan tahun? Mereka pada kenyataanya adalah pelaku korupsi yang mengagumkan. Mereka pada kenyataanya adalah mahluk yang menimbun kekayaan dalam jumlah yang fantastik, mereka juga pada kenyataanya adalah pejabat yang meskipun terbukti bersalah masih saja bisa lolos dari cengraman hukum yang selalu mengendepakan kepentingan daripada kebenaaran.

Jangan – jangan sekolah memang mengajarkan anak untuk menjadi penjahat? Jawabanya bisa jadi! Kalau dilhat bagaimana anak berkenalan pertama sekali dengan sekolah, pertama anak akan tau kalau sekolah bukan tempat yang gratis sekolah apalagi perguruan tinggi adalah lembaga akan selalu keluar uang untuk keperluan apasaja. Uang daftar ulang, uang ujia, uang praktikum, uang perpustakaan dan uang yang lain lain. Bahkan kadang kala untuk mendapatkan nilai bagus atau masuk perguruan tinggi yang ternama sekarang harus keluar uang. Dalam istilah yang lazim, harus keluar ongkos kalau mau bermutu

Uang menjadi penentu segalanya dan sekolah menjadi tempat pertama yang mengajarkan kalau mau hidup enak harus keluar uang. Pantas jika kemudian orang tua berfikir tidak apa keluar uang banyak untuk sekolah asalkan nanti bisa kembali banyak. Logika dunia dagang dagang dalam pendidikan itu kini menjadi wabah yang menghinggapi banyak orang

Makanya orang kemudian termakan janji apasaja yang memuat nama pendidikan didalamnya keluar uang asal untuk pendidikan itu tidak merugikan begut kata ahli investasi yang menyukai adagium ini tentu para pengusaha yang berlomba lomba mulai mebangun sekolah sekolah. Dalam benak siswa memang kemudian tertanam cita cita bahwa hidup enak itu karena hidup banyaknya uang sialnya itu dicontohkan prilaku para pengajar yang sangat antusias dalam mengumpulkan uang hingga meninggalkan siswanya. Misalnya sejak terjadi perubahan politik muncul istilah guru guru atau dosen dosen salang ngobyek merka banyak urus soal diluar karna gaji guru dan dosen tidak mencukupi. Bukan tidak mencukupi untuk makan dan minum untuk membeli kebutuhan buku, kebutuhan rumah, kebutuhan mobil. Kebutuhan biaya anak dll. Dan lebih berbahayanya kita tertipu dengan dll padahal dll itu disitulah infestasi uang para korupsi sebagai pejabat publik dan perubahannya bukan pada sumbangan pemikiran gaya hidup yang meroket. Tak jarang mereka melakukan korupsi.

Lalu kalian dianggap berhasil disekolah adalah mereka yang punya penghasilan uang yang berlipat ganda tiapa reonian anak anak sekolah selalu diramaikan dari bagaimana para alumninya telah mapan gara gara sekolah. Sekolah kemudian menjadi tangga mobilitas fertikal sejumlah orang. Tangga untuk orang ornag yang punya uang karena saat ini, buat yang miskin tapi bodoh tidak ada tempat untuk duduk disekolah dan karena uang begitu perkasa maka semua bisa dibereskan oleh alat tukar yang satu ini. Realitas diluar sekolah memberikan pelajaran langsung kalau semua masalah sering dibereskan dengan uang. Sebab mobilitas fertikal diluar dunia sekolah yang mereka tau sering tidak berkait dengan penguasaan dunia pengetahuan bahkan lebih banya berhubungan dengan kolusi,korupsi dan nepotisme (KKN)

Diperguruan tinggi kasus ini sangat menonjol beban pembiayaan kini porsinya ada dimahasiswa dan mereka yang menolak hukumnya akan dikenai pemecatan. Kebijakan yang otoriter dan sewenang wenang yang dikeluarkan mebuat pesertadidik belajar cara membuat kebijakan yang efektif cepat dan pasti diterima sewenag wenang ini juga dala artian pemaksaan terhdapa anak didik untuk membeli produk melalui tangan maupun birokrasi pendidikan.

Disamping itu pelajaran berikutnya adalah tipu muslihat ini sangat menonjol ketika lembanga pendidikan saling berkompetisi memperebutkan mahasiswa. Aneka cara yang ditempuh merai mahasiswa agar masuk dalam perguruan tinggi. Dengan janji akan mendapatkan beasiswa hingga penempatan kerja pada lulusanya. Cara yang lebih canggih adalah membuka berbagai cabang lembanga pendidikan di beberapa daerah terpencil untuk menampung mahasiswa yang memiliki ekonomi tapi berada dari kawasan yang jauh dari pusat pendidikan. Melalui jalinan kerja dengan instansi maka di bukalah kelas jarak jauh yang akhirnya telah di runtuhkan oleh DIKTI beberapa bulan yang lalu kurang lebih 200 lebih kampus swasta maupun negeri diseluruh indonesia.

Penipuan ini juga muncul lewat pemberian gelar kepada sejumlah orang biasanya para pejabat yang sumbangannya pada dunia pengetahuan kadang kala sangat minim. Aksi tipu menipi ini semakin meriah karena melibatkan banyak aktor, seperti kalanga pejabat pengusaha yang turut serta merusak lemabaga pendidikan

Dengan sistim sekolah seperti ini dapat kita bayangkan lulusan seperti apa yang keluar dari lembaga pendidikan. Wajar saja ketika banya kita jumpai bahkan terlihat hampir semua media mempertontonkan wajah wajah para aktor sekaligus penjahat yang berpendidikan tinggi yang merampok duit rakyat. Modal untuk menjadi penjahat pupuk secara intens melalui lembaga pendidkan. Lebih lebih pendidikan memang mengasingkan diri dari caru marut persoalan sosial yang ada dilingkungannya. Agak aneh jika orang belajar hukum tapi hanya diasuh oleh tenaga pengajar yang sama sekali tidak bersentuhan dengan dunia hukum, sama sahnya dengan mahasiswa kesehatan yang diajar oleh tenga pendidik yang bukan berlatar belakang kesehatan wajar saja kalau hasilnya menjadi pembunuh dirumah sakit.

Mereka hanya bertemu dengan pejabat hukum yang selama ini yang berperan sebagai pemberi hukuman. Bagaimana belajar tentang keadilan karena mahasiswa tidak pernah bertemu dengan korbannya. Hal yang sama juga terjadi pada ilmu ekonomi, dimana mahasiswa hanya diajarkan oleh dosen ekonomi yang tak pernah kesusahan mencari penghasilan.

Sumbangan utama lembaga pendidikan yang dijalankan melalui mekanisme seperti ini adalah lahirnya penjahat berdasi. Karena semakin tinggi pendidikan yang diperoleh, bukan pengetahuan, melainkan bagaimana memanfaatkannya untuk menipu serta sewenang-wenang.

Barisan pengangguran yang kini seperti jamur dimusim hujan ini benar benar mengerikan. Tiap kali ada bursa tenaga kerja maka antrian yang menyemut di sekitar tempat kegiatan membludak. Mereka adalah lulusan lembaga pendidikan yang telah membayar ongkos kuliah mahal-mahal demi mencicipi betapa indahnya dunia perkuliahan dengan bumbu yang beraroma menawan bahkan seluruh orang tua dan pemuda pun terpesona oleh aroma bumbu yang di rangkaikan oleh pengelolah pendidikan.

Pengangguran kian membaur dan sukar dipecahkan karena keberadaan lembaga pendidikan. Obrolan gelarpun jadi asalkan membayar menjadi trend yang di lingkungan akademis. Kian tinggi akan makin sulit cari pekerjaan apalagi dengan tuntutan yang makin besar. Apalagi mereka melihat realitas dilapangan betapa dunia pekerjaan kadangkala tidak ditentukan oleh kecerdasan melainkan mengingat hubungan dengan sejumlah orang.

COMMENTS

BLOGGER




Nama

Featured,1611,Hukum Kriminal,2138,Kesehatan,385,Korupsi,747,Olahraga,234,Opini,132,Pemerintahan,1556,Pendidikan,829,Politik,1264,Sosial Ekonomi,2599,
ltr
item
Koran Stabilitas: Sekolah Meluluskan Penjahat
Sekolah Meluluskan Penjahat
Jangan – jangan sekolah memang mengajarkan anak untuk menjadi penjahat? Jawabanya bisa jadi!
Koran Stabilitas
https://www.koranstabilitas.com/2016/03/sekolah-meluluskan-penjahat.html
https://www.koranstabilitas.com/
https://www.koranstabilitas.com/
https://www.koranstabilitas.com/2016/03/sekolah-meluluskan-penjahat.html
true
8582696224840651461
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy