BIMA, KS.- “Kejahatan Tanpa Jejak” ( Crime Without a Trace ). Fakta kepenyidikan dan penyelidikan menunjukkan bahwa pelaku berusaha sepenuh...
BIMA, KS.- “Kejahatan Tanpa Jejak” (Crime Without a Trace). Fakta kepenyidikan dan penyelidikan menunjukkan bahwa pelaku berusaha sepenuhnya menghilangkan bukti yang dapat mengaitkannya dengan peristiwa kematian.
Peristiwa Khifen merupakan peristiwa rahasia (covert incident). Dalam pendekatan kriminologi, kasus Khifen memiliki banyak petunjuk tentang adanya keterlibatan aktor intelektual yang cukup mumpuni, dengan keahlian mengendalikan narasi publik serta merekayasa peristiwa untuk menutupi kejahatan yang sengaja disembunyikan oleh pelaku. Inilah mata rantai yang menjelaskan mengapa dan apa penyebab kasus Khifen sulit terdeteksi hingga hari ini. Fakta-fakta yang ada membenarkan proposisi tersebut, dengan mengacu pada cara dan pola terduga pelaku rekayasa yang sengaja tidak menghilangkan semua jejak secara mutlak selama kasus ini masih terbuka. Tujuannya, antara lain:
- Agar opini publik membenarkan dugaan kehilangan tanpa harus mengujinya kembali.
- Untuk menciptakan ambiguitas dalam proses penyelidikan dan penyidikan.
Kasus Khifen masuk dalam kategori kejahatan sempurna (perfect crime). Tuduhan kejahatan yang dilakukan secara sistematis oleh terduga pelaku dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah melalui pendekatan terminologi. Terminologi berfungsi sebagai strategi untuk membingkai argumen dan memengaruhi persepsi publik dengan istilah-istilah tertentu yang dapat memicu respons emosional maupun kognitif, sehingga membantu membentuk opini publik sesuai keinginan narator atau aktor intelektualnya.
Pola aktor intelektual dalam menggunakan premis terminologi dapat ditinjau kembali secara saksama melalui konsep fiksi yang dimainkan selama 14 hari, merujuk pada kejahatan yang tidak dapat dibuktikan, tidak ditemukan korban, dan tidak dapat dituntut secara hukum. Padahal, dalam kenyataannya, “kejahatan sempurna” sangat jarang terjadi karena selalu ada kemungkinan bukti tersembunyi yang terlewatkan. Namun, bukti tersembunyi tersebut dapat menjadi absurd apabila aparat penegak hukum ikut terlibat dalam dinamika kasus yang kompleks ini.
Perlu dipahami bahwa dalam kenyataan, hampir tidak ada peristiwa yang benar-benar tanpa jejak sama sekali. Bahkan pelaku yang paling cermat sekalipun biasanya tetap meninggalkan sesuatu yang dapat ditemukan melalui teknologi forensik modern, seperti DNA tersembunyi, jejak elektronik, atau pola perilaku yang dapat dianalisis.
Untuk memperkuat sudut pandang kritis terhadap Crime Without a Trace dan Covert Incident dalam kasus Khifen, perlu ditinjau kembali keterangan saksi ahli forensik dalam kasus Brigadir J. Saksi ahli menjelaskan bahwa dalam pandangan ilmu forensik, kedudukan aktor dalam setiap peristiwa kejahatan biasanya tidak tampak di ruang publik. Namun, ketika aktor tersebut semakin menampakkan diri di ruang publik, hal itu menandakan adanya kecemasan terhadap skema kejahatan yang telah dibangun. Pandangan ini disampaikan oleh saksi ahli forensik dalam sidang Ferdy Sambo pada 17 Oktober 2022.
(KS YANI)

COMMENTS