Ulah Maskapai Penerbangan Garuda yang menelantarkan Bupati, Drs, H. Syafrudin, HM. Nur, M.Pd di Denpasar membuat Sekda Drs, HM. Taufik, Hak marah besar.
Ulah Maskapai Penerbangan Garuda yang menelantarkan Bupati, Drs, H. Syafrudin, HM. Nur, M.Pd di Denpasar membuat Sekda Drs, HM. Taufik, Hak marah besar. Karenanya, pejabat kelahiran Desa Ntonggu itu akan menginstruksikan seluruh pejabat lingkup Kabupaten tidak menggunakan lagi jasa penerbangan tersebut. Pernyataan tegas itu disampaikan HM. Taufik kepada Koran Stabilitas belum lama ini.
Sekda mengatakan, instruksi yang dipicu pelayanan buruk perusahaan itu akan segera dilakukan. Masalahnya, disamping buruk pelayanan hingga berujung pada terlantarnya Bupati dan dirinya, tapi juga harga tiket melambung tinggi. “Sudah buruk pelayanan, harga tiket pun naik. Karena itu, saya akan instruksi pejabat untuk tidak naik pesawat tersebut,” ujarnya.
Ia membandingkan, harga tiket pesawat garuda rute Bima-Jakarta dapat menghabiskan anggaran daerah Rp.2,5 hingga Rp.3 Juta. Sementara, pesawat lain seperti Lion Air hanya Rp.1,5 hingga Rp. 2 Juta. Sehingga, dirinya berkesimpulan untuk mengeluarkan surat instruksi untuk seluruh pejabat kabupaten. ”Kalau menggunakan Lion Air, kami hanya menghabiskan anggaran tidak bernilai besar. Beda pulang pergi dengan Garuda yang menghabiskan anggaran Rp.2,5 hingga Rp.3 juta,” ujarnya dengan nada kesal.
Intinya tegas Sekda, apapun alasannya instruksi itu tetap dikeluarkan dalam waktu dekat ini. Pertimbangannya yakni soal pelayanan yang baik dan nyaman, termasuk harga tiket yang tidak jauh beda dengan jasa maskapai penerbangan lain. ”Saya tidak main-main dan sembarangan mengeluarkan pernyataan, apapun yang saya sampaikan, itu yang akan saya lakukan,” tegasnya.
Sebelumnya, Bupati dan Sekda kembali ke Bima setelah menyelesaikan agenda penting di Jakarta dengan menggunakan pesawat Garuda. Namun sampai di Bandar Udara Ngurah Rai Denpasar Bali, dua penumpang itu batal kembali ke daerah asal (Bima). Karena, pesawat itu tidak jadi diterbangkan tanpa alasan jelas. Justeru, Bupati dan Sekda dibiarkan menunggu hingga tiga jam lamanya. (KS-09)
![]() |
| Ilustrasi Garuda Indonesia |
Ia membandingkan, harga tiket pesawat garuda rute Bima-Jakarta dapat menghabiskan anggaran daerah Rp.2,5 hingga Rp.3 Juta. Sementara, pesawat lain seperti Lion Air hanya Rp.1,5 hingga Rp. 2 Juta. Sehingga, dirinya berkesimpulan untuk mengeluarkan surat instruksi untuk seluruh pejabat kabupaten. ”Kalau menggunakan Lion Air, kami hanya menghabiskan anggaran tidak bernilai besar. Beda pulang pergi dengan Garuda yang menghabiskan anggaran Rp.2,5 hingga Rp.3 juta,” ujarnya dengan nada kesal.
Intinya tegas Sekda, apapun alasannya instruksi itu tetap dikeluarkan dalam waktu dekat ini. Pertimbangannya yakni soal pelayanan yang baik dan nyaman, termasuk harga tiket yang tidak jauh beda dengan jasa maskapai penerbangan lain. ”Saya tidak main-main dan sembarangan mengeluarkan pernyataan, apapun yang saya sampaikan, itu yang akan saya lakukan,” tegasnya.
Sebelumnya, Bupati dan Sekda kembali ke Bima setelah menyelesaikan agenda penting di Jakarta dengan menggunakan pesawat Garuda. Namun sampai di Bandar Udara Ngurah Rai Denpasar Bali, dua penumpang itu batal kembali ke daerah asal (Bima). Karena, pesawat itu tidak jadi diterbangkan tanpa alasan jelas. Justeru, Bupati dan Sekda dibiarkan menunggu hingga tiga jam lamanya. (KS-09)

COMMENTS